Review Sektor Energi di Masa Pandemi dan Proyeksinya pada 2021

Gambaran Umum Penyediaan Energi di Indonesia

Situasi pandemik Corona Novel Virus 2019 (COVID-19) yang kita alami saat ini, selain berdampak langsung pada kesehatan manusia di seluruh dunia, juga memiliki implikasi besar terhadap ekonomi global. Guncangan ekonomi global akibat pandemi telah mendorong sebagian besar harga komoditas turun. Komoditas yang paling terpengaruh adalah komoditas energi, terutama minyak bumi karena berkaitan langsung dengan sektor transportasi yang juga mengalami penurunan drastis.

Berbicara mengenai komoditas energi, kondisi penyediaan energi di Indonesia saat ini masih didominasi oleh energi fosil, terutama batubara. Hal tersebut dikarenakan sektor pembangkit listrik di Indonesia didominasi oleh Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara, serta batubara juga digunakan sebagai bahan bakar di sektor industri. Oleh karena itu, kondisi tersebut menyebabkan batubara merupakan pangsa penyediaan energi primer kedua setelah minyak bumi.

Sehubungan dengan guncangan ekonomi global, bahan bakar energi minyak bumi di Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) terutama di sektor transportasi masih tinggi, karena teknologi transportasi berbasis listrik dan gas masih belum mampu menggeser dominasi teknologi transportasi berbasis BBM.

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Permintaan atau Kebutuhan Energi di Indonesia

Berdasarkan analisis dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam penelitiannya yang berjudul Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Sektor Energi di Indonesia, dipaparkan bahwa penurunan kebutuhan energi diperkirakan akan terjadi seiring dengan kondisi ekonomi yang menurun dan adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Pada tahun 2020, kebutuhan energi nasional diperkirakan mengalami penurunan sekitar 107,4 – 199,2 juta SBM.

Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan kebutuhan energi di sektor penggerak ekonomi utama, yaitu: industri, transportasi, komersial, dan sektor lainnya. Hanya sektor rumah tangga yang mengalami kenaikan pangsa, karena hanya sektor ini yang mengalami kenaikan kebutuhan energi. Namun, peningkatan tersebut tidak sebanding dengan penurunan kebutuhan listrik di sektor industri dan komersial, sehingga secara total kebutuhan listrik akan menurun.

Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Penyediaan Energi di Indonesia

Masih merujuk dari data Outlook Energi Indonesia 2020 oleh BPPT, dinyatakan bahwa penyediaan energi termasuk Energi Baru Terbarukan (EBT) terkena dampak yang cukup besar akibat kondisi pandemik COVID-19. Namun, total penyediaan EBT masih jauh lebih kecil dibandingkan penyediaan energi fosil. Jenis EBT yang memiliki peranan terbesar di Indonesia antara lain energi hidro / angin, panas bumi, biomassa, dan biodiesel. Energi angin, panas bumi, dan sebagian biomassa dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Sedangkan energi biodiesel sebagian besar dimanfaatkan untuk sektor transportasi.

Berbicara tentang penyediaan EBT, pemerintah Indonesia telah membuat keputusan untuk mengejar target bauran EBT sebesar 23% pada tahun 2025. Pada masa pandemi seperti sekarang ini, dimana masa normal belum terlihat dengan pasti, rencana pencapaian target tersebut diperkirakan akan menghadapi berbagai kendala. Salah satu diantaranya yaitu rencana penambahan kapasitas pembangkit listrik EBT akan mengalami penundaan waktu dalam pembangunannya.

Proyeksi Kebutuhan Energi Indonesia 2021

Pada skenario business as usual (BAU) yang telah dirancang oleh BPPT, diperkirakan bahwa selama tahun 2018-2050, total kebutuhan energi final meningkat rata-rata sebesar 3,9% per tahun. Sebagai penggerak ekonomi, kebutuhan energi di sektor industri diperkirakan terus meningkat dan mendominasi total kebutuhan energi final pada tahun 2050. Hal tersebut ditambah dengan kebutuhan listrik untuk memenuhi operasional industri, misalnya industri tekstil, kertas, dan lain sebagainya.

Sementara itu, kebutuhan energi sektor transportasi diproyeksikan mengalami pertumbuhan lebih rendah dari sektor industri, akibat meningkatnya laju pertumbuhan kendaraan bermotor. Disamping itu, kebutuhan energi final sektor komersial diperkirakan juga akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan tertinggi dibandingkan sektor-sektor yang lain seiring dengan meningkatnya perekonomian dan penduduk. Kemudian, proyeksi kebutuhan energi sektor rumah tangga dan sektor lainnya (pertanian, konstruksi, dan pertambangan) akan terus meningkat dengan laju pertumbuhan yang lebih rendah.

Proyeksi Penyediaan Energi di Indonesia pada 2021

Kondisi pembangkit listrik di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 64 GW, dengan pangsa terbesar PLTU batubara yang mencapai 45%. Sedangkan pangsa pembangkit EBT sekitar 15%. Sisanya merupakan pembangkit berbahan bakar gas dan BBM. Sehubungan dengan hal tersebut, penyediaan energi sampai dengan tahun 2050 diperkirakan tetap didominasi oleh energi fosil, khususnya batubara.

Sementara itu, jenis energi minyak bumi diperkirakan akan terus menurun, namun perannya masih cukup tinggi hingga tahun 2050. Ketergantungan penggunaan bahan bakar minyak (BBM) terutama di sektor transportasi masih tinggi dikarenakan teknologi transportasi berbasis listrik dan gas masih belum mampu menggeser dominasi teknologi transportasi berbasis BBM. Kondisi ini semakin menambah ketergantungan impor energi karena pemenuhan kebutuhan BBM sebagian besar diperoleh dari impor, baik dalam bentuk impor minyak mentah maupun impor BBM.

Source: BPPT Outlook Energi Indonesia 2020 – Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Sektor Energi di Indonesia

Bergeser sedikit dari energi primer ke energi alternatif, diketahui bahwa EBT mengalami pertumbuhan pasokan yang paling cepat, yaitu sebesar 6,5% per tahun. Pasokan EBT terus didorong seiring meningkatnya kekhawatiran akan kenaikan harga energi fosil serta dampak lingkungan dari penggunaan energi fosil. Namun demikian, peran EBT hingga tahun 2050 masih kurang dari seperlima dari total penyediaan energi. Penyediaan EBT tersebut didominasi oleh BBN, biomassa, hidro, dan panas bumi. Sementara itu, pangsa pasar bagi EBT lainnya (surya, angin, sampah dan biogas) relatif kecil.

Pemanfaatan EBT untuk Mendukung Sektor Energi Energi di Indonesia

Potensi EBT di Indonesia terbilang tinggi, namun belum dimanfaatkan secara optimal sehingga belum dapat mencapai target bauran energi seperti yang diamanatkan dalam kebijakan energi nasional. Salah satu sumber EBT yang memiliki resource sangat besar di Indonesia, diluar sumber EBT energi hidro,  angin, panas bumi, biomassa, dan biodiesel, adalah tenaga surya dengan potensi sebesar 207.898 MW (4,80 kWh/m2/hari).

Adapun menurut Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) kapasitas terpasang untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) baru mencapai 152 megawatt (MW) hingga tahun 2020 ini.  Melalui Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Pemerintah menargetkan untuk membangun PLTS sebesar 6,5 GW pada 2025.

Walaupun begitu, pemanfaatan EBT masih banyak menghadapi kendala, diantaranya adalah kesenjangan geografis antara lokasi sumber energi dengan lokasi kebutuhan energi serta biaya investasi untuk inovasi teknologinya masih cenderung belum terjangkau. Kendala tersebut menjadi tantangan bagi pemerintah dalam membuat kebijakan ataupun regulasi yang dapat memacu pemanfaatan teknologi energi berbasis EBT.

Source: BPPT Outlook Energi Indonesia 2020 – Dampak Pandemi COVID-19 terhadap Sektor Energi di Indonesia

Khusus membahas Pembangkit Listrik Tenaga Surya, perkembangannya masih terkendala dikarenakan biaya investasi cenderung tinggi terutama untuk komponen baterai penyimpan energi. Masalah pembebasan lahan juga termasuk dalam kendala tersebut. Sedangkan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu masih memiliki beberapa tantangan yang dihadapi mengingat Indonesia adalah wilayah khatulistiwa yang memiliki potensi angin yang tidak stabil dan juga masalah harga jual listrik yang masih murah.

Efektivitas Biaya pada Energi Surya

Sebagai salah satu developer Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Indonesia, PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA) memiliki berbagai konsiderasi terkait mengapa energi surya lebih direferensikan untuk mendukung energi primer di masa depan. Salah satunya yaitu faktor efektivitas biaya. Berdasarkan data yang dihimpun dari International Renewable Energy Agency (IRENA) dalam risetnya yang berjudul How Falling Costs Make Renewables a Cost Effective Investment, dapat dilihat bahwa apabila biaya energi surya disandingkan dengan biaya energi angin, maka biaya energi surya mengalami penurunan secara cepat dalam 10 tahun terakhir. Sementara biaya energi angin mengalami perubahan yang tidak terlalu signifikan. Hal tersebut diprediksi sangat membuka peluang penurunan harga yang lebih signifikan pada tahun-tahun berikutnya.


Source: IRENA, 2020: How Falling Costs Make Renewables a Cost Effective Investment.

Pada riset tersebut, dijelaskan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan biaya energi surya dapat menurun dengan cepat. Sudah tidak perlu diragukan lagi, energi matahari merupakan sumber energi yang melimpah dan tidak akan pernah habis. Terutama di negara-negara tropis yang memiliki dua musim, cahaya matahari yang bersinar hampir sepanjang tahun sangat bisa dimanfaatkan dengan baik oleh negara-negara tersebut.

Disamping itu, sumber energi yang melimpah ini menjadi suatu acuan yang dijadikan program oleh pemerintah di hampir seluruh negara dalam rangka mengembangkan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Berbagai regulasi yang diresmikan serta kerjasama yang dijalin dengan berbagai stakeholder rutin dilaksanakan oleh pemerintah untuk mencapai target bauran energi di negara masing-masing.

Menelusuri spesifikasi teknologi solar panel itu sendiri, dapat diklaim bahwa proses instalasi dan pemeliharaan sistemnya membutuhkan usaha yang jauh lebih ringan dibandingkan dengan sistem energi terbarukan lainnya. Sebut saja untuk pemasangan solar panel pada sektor retail seperti perumahan, proses instalasi hanya memakan waktu hitungan hari. Mengenai pemeliharaannya, solar panel hanya membutuhkan pembersihan rutin dengan air dan kain pembersih untuk membersihkan permukaannya. Untuk masa pakai solar panel mencapai 25 tahun, sehingga potensi kerusakan yang ditimbulkan sangatlah minim.

Kemudian terdapat beberapa faktor lain yang menentukan, yaitu harga manufaktur solar panel yang jauh lebih efisien. Hal tersebut menyebabkan biaya produksi yang dikeluarkan juga jauh lebih terjangkau. Faktor terakhir adalah permintaan sistem solar panel yang terus meningkat dikarenakan kesadaran serta kesediaan masyarakat yang tinggi untuk berinvestasi di pasar listrik energi surya ini.